|
Kelompok Paduan Angklung SMA Negeri 3 Bandung (KPA3) di Teater Manzoni, Bologna, Italia, Sabtu, memperlihatkan bahwa alat musik dari bambu asal Indonesia itu bisa untuk melantunkan lagu barat, seperti lagu Italia O Sole Mio serta lagu terkenal semacam New York New York, La Vie En Rouge dan Santorini. KPA3 Bandung tersebut sedang mengikuti berbagai festival di Italia, 19 Juli-5 Agustus, demikian Sekretaris Pertama KBRI Roma Pramudya Sulaksono dalam keterangan tertulis, Sabtu. Disebutkan, dengan senyuman serta berbusana tradisional Indonesia dari berbagai daerah, penampilan kelompok paduan musik angklung berulang kali mendapat pujian dari penonton Italia. |
| KPA3 di Kick Andy: 40 Hari di Eropa |
![]() Cuplikan Tayangan Kick Andy Angklung tak sekedar bunyi dari batang bambu, di balik semua kekhasan nada-nada yang dilahirkan, angklung memiliki sebuah pesona yang memikat, tak hanya bagi kita sebagai warga Indonesia, tapi juga para expatriat. Setidaknya, ini lah yang diakui oleh Mattew, seorang warga negara asal New Zealand. ”Bagi saya suaranya sangat khas dan unik, sangat berbeda dari jenis musik lainnya,” katanya. Tak hanya Mattew, Expatriat asal Philipina, Riza bahkan mengaku bulak-balik ke Indonesia untuk urusan belajar angklung. Mattew & Riza sama-sama belajar angklung di Saung Aklung Mang Ujo di Bandung. ”Beberapa tahun ini makin banyak expatriat yang datang belajar angklung di sanggar kami,” kata Taufik Ujo, pengurus Saung Angklung Mang Ujo. Saat tampil di Kick Andy, Mattew & Riza terlihat sangat piawai bermain angklung. Mereka membawakan lagu ”Biarlah” milik grup musik Nidji. Sementara grup musik angklung Pelangi-Pelangi yang tiga personilnya berasal dari Jepang, tampil dengan lagu ”Sukiyaki”. Memang makin banyak expatriat belajar bermain angklung, dan bagi sebagian orang ini cukup untuk menilai bahwa musik angklung sudah semakin mendunia. Tapi anak-anak muda yang tergabung dalam Kelompok Paduan Angklung SMA 3 Bandung atau KPA 3, memiliki cara sendiri untuk menebar pesona angklung ke antero dunia. Mereka melakukan misis kebudayaan yang mereka namakan Expand the Sound of Angklung (ESA) ke manca negara. Kisah tragis yang menjadi judul dari topik Kick Andy kali ini adalah tentang perjalanan mereka ke Eropa di tahun 2004. Maksud hati ini menduniakan anglung, tapi adaya dana tak cukup. Itulah kiasan yang tepat untuk menggambarkan betapa di awal misi pun sudah terpampang jelas hambatan yang mereka hadapi. Dan ini pula yang menjadi awal kisah heroik mereka demi tenarnya alunan musik bambu. Pada awalnya mereka sudah memiliki sponsor untuk membiayai keberangkatan tim yang berjumlah 35 orang itu, namun pada perjalanannya sponsor mengundurkan diri. ”Padahal waktu keberangkatannnya tinggal 2 minggu lagi, dan schedule dengan pihak-pihak di Eropa sudah confirm,” kata Maulana Syuhada, salah satu pimpinan rombongan yang juga penulis buku ”40 days in Europe”. Alhasil dengan dana yang defisit mereka pun tetap menjalankan misinya. Bisa ditebak apa yang kemudian terjadi di sana, berbagai tantangan dan hambatan berbaris menghadapi mereka. Dari urusan makan para tim yang tak teratur, biaya transportasi, sampai urusan rusaknya pintu bis yang mereka sewa. ”Nasi kotak jatah kami pernah hilang, hingga kami harus makan 12 nasi kotak untuk 35 orang,” kata Maulana lagi. Selain soal nasi, banyak cerita menarik yang terungkap dari perjalanan mereka ke Eropa. Meski perjalanan tertatih, mereka berhasil melangsungkan pertunjukan mereka di beberapa negara Eropa, seperti Jerman, Paris, Belgia, dan Polandia. Mereka bahkan sering mendapatkan standing uplause dari penontonnya. Selain itu mereka berhasil mendapat anugrah piala Cipuaga dalam festival Zakopane, sebuah festival tertua dan even budaya terbesar di Polandia. ”Kami tak menyangka bisa mendapatkannya, karena penghargaan Cipuaga biasanya hanya diberikan pada para pemenang umum kompetisi highland folklore.” Selain penghargaan tadi, ”prestasi” mengejutkan lainnya dari perjalanan budaya mereka kali ini, adalah soal utang. ”Saat kami pulang, kami masih berhutang pada panitia senilai 8500 pound ,” kata Ida, mantan peserta ESA yang kebagian mengurus soal keuangan waktu itu. Kisah 4 tahun lalu itu, tidak membuat jera para pengurus dan anggota KPA 3. Bahkan bulan Juli ini mereka sudah akan berangkat kembali dengan misi yang sama ke Eropa. ”Meski sudah dekat tapi dana yang kami butuhkan belum mencukupi,” kata Burhan, yang akan menjadi pimpinan rombongan tahun ini. Lalu, apakah ini berarti sejarah KPA 3 di tahun 2004 akan berulang? Belum tentu. Yang mungkin akan terjadi adalah musik angklung makin bergema di antero dunia dan di dalam negeri sendiri, karena semakin banyak orang yang menggemari permainan goyangan alat musik bambu ini. Ini bisa kami buktikan, ketika audience Kick Andy yang hadir di studio begitu antusias saat memperoleh kesempatan untuk belajar bermain angklung dari tim Saung Angklung Mang Ujo. Hasil pembelajaran kilatnya, akan anda lihat dalam performance spesial para audience di ujung tayangan Kick Andy kali ini.
|
| < Prev | Next > |
|---|
| 2008 | ISME Bologna - Performing Groups |
| AWI: Angklung Web Institute - AWI Home |
| Youtube - Angklung Orchester Hamburg in Concert |
| Festiwal Folkloru |
| 116 registered |
| 40 male |
| 76 female |
| 0 today |
| 0 yesterday |
| 1 this week |
| 2 this month |
| Last: |
adit |