|
Seiring dengan memasuki milenium baru di tahun 2000, Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung (KPA 3) dengan bangga mempersembahkan media informasi angklung Padaeng dalam bentuk homepage. Adapun maksud dari homepage ini adalah: 1) sebagai sarana penyebaran informasi mengenai perkembangan perangklungan di Bandung, 2) sarana komunikasi antar pemerhati & pelaku musik angklung, 3) di masa mendatang diharapkan dapat menjadi suatu bank data dan informasi serta sarana transaksi bisnis untuk hal-hal yang terkait dengan musik angklung. Akhir kata semoga persembahan homepage ini akan dapat menjadi salah satu kontribusi kami bagi pengembangan industri musik angklung Indonesia kini dan mendatang. Selamat menikmati. |
| Gentra Musik Angklung Unisba di Melbourne (Bagian 1): "Es Lilin" & "Waltzing Matilda" Bisa Diterima |
Menyaksikan pertunjukan grup Gentra Musik Angklung (GeMA) Universitas Islam Bandung (Unisba) di acara "Combining the Artistry of Indonesian Traditional Music, Dancer, and The Combat Art of Pencak Silat" di Melbourne Town Hall, Swastons St, Melbourne, Australia, Jumat (9/5), sebanyak dua kali, siang dan malam, sesuatu yang di luar dugaan. Betapa tidak, Melbourne Town Hall sangat megah dan mewah. Gedung yang terletak di pusat Kota Melbourne itu, setiap orang memasuki gedung, penonton harus melewati karpet merah yang berterap mengikuti alur anak tangga yang menghubungkan ke lantai satu. Gedung ini juga mampu menampung 1.800 penonton dengan kursi yang empuk dan nyaman. Sudah termasuk di bagian tribun yang terletak di lantai dua, menyerupai huruf U dan mampu menampung 300 penonton. Untuk pintu keluarnya terdapat delapan pintu. Di gedung inilah GeMA Unisba tampil bersama Grup Pencak Silat Pimpinan Edi Nalapraya yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Pencak Silat dari Jawa Barat. Menurut Rektor Unisba Prof. Dr. H. E. Saefullah Wiradipradja, S.H., L.L.M., yang memimpin rombongan GeMA Unisba, Melbourne Town Hall yang dibangun tahun 1852 itu, pernah dijadikan sebagai tempat pelantikan para pejabat Melbourne hingga tahun 2001. Saat ini, gedung ini biasanya digunakan untuk tempat konser-konser besar seperti menggelar musik orkestra. Bisa pula untuk kepentingan umum, asal mampu membayar sewa gedung 9.800 dollar Australia. Hadir dalam acara ini, Konsulat Jenderal Indonesia untuk Melbourne Budiarman Bahar, Pembantu Rektor II Unisba Dadan Ilyas, S.E. Ak., M.Si., Dekan Fakultas Kedokteran Unisba Prof. Dr. dr. Heri SastraMihardja, Sp.F., dan pejabat konjen lainnya. Siang itu penampilan pertama diawali grup GeMA Unisba pimpinan Ny. Tien Sumartini Saefullah dengan konduktor Yusfian Shalahudin. Pertunjukan pertama digelar tepat pukul 11.00 waktu setempat atau pukul 8.00 WIB. Ditonton 750 murid yang datang dari 18 SMA sederajat yang memiliki program Bahasa Indonesia di Melbourne. "Mereka yang datang ini adalah pelajar yang mampu berbahasa Indonesia, cobalah menyapa dengan Bahasa Indonesia, mereka akan antusias menjawab pertanyaan kita," ujar Konsul Bidang Ekonomi, Johar Gultom. Penampilan kedua dilakukan malam hari yang dimulai pukul 20.00 waktu setempat. Malam itu, 28 musisi GeMA Unisba siap memainkan musik angklung yang menjadi kebanggaan warga Jawa Barat. Mengenakan pakaian kebaya putih dengan kain sarung bermotif batik. Begitu ayunan tangan Mohamad Yusfian sang konduktor mengalun memberi aba-aba dan suara Iin Wiarti Baasarah mengumandangkan lagu "Es Lilin" ciptaan Bimursih, tepuk tangan langsung membahana di dalam gedung. Padahal, kebiasaan menonton konser, seharusnya tepuk tangan dilakukan di akhir penampilan. Namun, begitu lagu pertama usai, tepuk tangan kembali menyeruak, sebagian penonton banyak yang berdiri. Hal ini membuat Rektor Unisba Prof. Saefullah yang duduk di bagian depan, ikut bergetar merasakan sambutan penonton yang sangat meriah. Ia bahkan tidak mengira malam itu mayoritas warga Melbourne menyukai permainan angklung Unisba. Musik angklung yang dipopulerkan Daeng Sutigna di tahun 1950-an memang tidak lagi hanya melumat lagu-lagu klasik dan latin, tetapi sudah mampu dimainkan untuk berbagai jenis musik. Hal itu dibuktikan GeMA Unisba ketika menyodorkan musik untuk lagu "Besame Mucho" dan "Somewhere My Love" yang langsung membius hadirin di Melbourne Town Hall. Malam itu juga tampil dua sesi, ketika mengantarkan lagu kebangsaan Australia, "Waltzing Matilda", gemuruh tepuk tangan yang datang dari arah penonton kian menjadi-jadi. Rasa kedekatan dengan lagu kebangsaannya sendiri memang berhasil dibangun grup GeMA Unisba ini. Pemilihan lagu yang tepat, direspon penonton dengan standing applause yang panjang. Termasuk ketika lagu "Kicir-kicir" dan "Halo-halo Bandung" dikumandangkan di akhir penampilan. Kilatan lampu blitz dari kamera milik penonton dan beberapa wartawan asing yang meliput acara ini menjadi dukungan yang tinggi bagi tim angklung Unisba. Sayang, sambutan meriah ini tidak terlihat ketika Pencak Silat diketengahkan. Musik memang sering mampu menggugah sanubari siapa pun yang mendengarnya. Oleh karena itu, sambutan yang diberikan masyarakat Melbourne dan orang Indonesia di Melbourne, khususnya orang Sunda tampak tulus dan antusias penuh kerinduan. "Latihan yang berhari-hari dilakukan, berbalik dengan kesuksesan, capek memang tapi kita puas karena bisa menyuguhkan dengan optimal," ujar pimpinan GeMA Unisba, Tien Saefullah seusai tampil. Hal ini juga dirasakan hampir semua peserta Gentra Musik Angklung Unisba. Terutama Yusfian, konduktor yang dinilai agak "rewel" dalam masa-masa latihan itu, tak sanggup menahan air matanya. Ia menangis di balik panggung. "Terima kasih kita telah berbuat sengat baik di atas pentas, maaf bila selama ini saya keras melatih, tapi inilah hasilnya, saya puas," katanya seraya menyeka air matanya.
|
No comment posted
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| 2008 | ISME Bologna - Performing Groups |
| AWI: Angklung Web Institute - AWI Home |
| Youtube - Angklung Orchester Hamburg in Concert |
| Festiwal Folkloru |
| 121 registered |
| 40 male |
| 81 female |
| 0 today |
| 0 yesterday |
| 0 this week |
| 0 this month |
| Last: |
ditaa |